Untuk hukum valentine sendiri, kalo antum mau surfing kesitus-situs Islami (bukan liberal, sebab kalo liberal tentu meraka bilang “why not…! It’s OK”) maka sangat jelas diterangkan satu per satu dengan detil. Itulah kenapa dalam tulisan yang paling bawah saya sebutkan referensi pengambilan, baik hukum maupun sejarah. Jadi bukan hal baru. Dan tidak ada yang baru. Saya salut sama Ning citra yang jeli memberi komentar
toh post diatas tu isinya sama kayak artikel2 yang saya baca di koran, majalah, internet. Jujur sie gak ada hal baru didalamnya
Tapi kenapa tanggapan pengunjung kok kayak kebakaran alis, bulu mata dan rambut yang lainya?( He…he..he…. berarti sekarang gundul dong. Kan semua terbakar(^_^)). Saya menduga dan hanya dugaan saya saja, bisa benar bisa salah. Namanya juga prasangka. Salah satunya adalah judul postingan yang provokativ, dan hal itu bukan tanpa kesengajaan. Saya ingat dulu waktu ikut pelatihan jurnalistik dengan tutor bapak Ecip Sinansari, mas Ach. Thoha dll. ( meraka sebagian adalah wartawan senior dari majalah tempo yang dibreidel ). Dalam salah satu materi disebutkan, untuk membuat sebuah berita, selain tulisan yang runtut yang perlu diperhatikan adalah judul, ya judul. Karena walaupun tulisan anda berbobot tapi kalo judulnya biasa-biasa saja maka jangan menyesal kalo nggak ada yang baca anda. Kebiasaan orang sebelum memutuskan meneruskan membaca ato tidak adalah dengan “cuma” melihat judulnya.
Dalam konteks ini saya coba praktekkan apa yang saya dapat. Biar jadi ilmu yang bermanfaatlah. Seperti saya tulis di atas, nggak ada yang baru dan sama sekali bukan hal baru dalam hal hukum merayakan valentine. Nggak percaya sekarang coba gunakan google, yahoo ato apalah untuk mencari data tentang hukum merayakan valentine. Jadi mungkin inilah yang saya duga sebagai pemicu kenapa banyak yang “alisnya terbakar” (nggak pake istilah jenggot, sebab mungkin ada yang cewek. Masak cewek berjenggot. Hik…,hik….). Judul, ya itulah yang membakar. Sebab mungkin nggak akan sesengit ini perdebatannya kalo say ambil judul yang lain, mis. Hukum valentine, valentine dalam islam, apa sih valentine itu? Atau judul-judul lain yang datar. Mungkin, dan inipun sekali lagi hanya sebatas kemungkinan. tidak akan banyak yang memberi komentar, alasannya sudah banyak yang ngulas.
Pesan dari mbahnya :
“KALO TULISAN ANDA INGIN DIBACA ATAU MUNGKIN DIMAKI-MAKI ORANG, BIKIN JUDUL YANG PROVOKATIV”
Peace man……….!!!
Sabda Nabi Muhammad SAW : “ Pemudah urusan orang jangan dipersulit”
En, makasih bagi teman-teman yang sudah kasih komentar. Eh, tapi tulisan diatas nyambung nggak ya….? (^_^)
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



Gak nyambung mbah…
Mhuehehehe
Mustinya ini postingan di kasih judul, “Yang Tidak Komen di Sini, Kafir!!!”… Kayak-na provokatif tuh mbah..
Ane tertarik ama pernyataan mbah, bahwa orang biasanya akan berontak jika kebiasaan, kesukaan atau adatnya dicegah, dan oleh karenanya Rasulullah, para sahabat, tabiin dan para pendakwah generasi baru (yang bijaksana) ketika menyampaikan dakwahnya tidak maen tembak langsung. Istilah laennya mungkin bertahap namun pasti. Inilah yang barangkali dinamakan dengan kebijaksanaan dan kearifan dalam berdakwah. Fakta juga membuktikan bahwa model dakwah dengan cara yang arif, lemah lembut, proximite, bertahap dan terkadang harus dengan pembauran budaya, lebih berhasil dibandingkan dakwah dengan cara-cara to the point, kasar (mereka bilang “tegas”
dan tidak memperhatikan aspek psiko-sosial budaya.
Yang paling kentara contohnya adalah dakwah wali songo di endonesa yang berhasil mengislamkan lebih dari separuh masyarakat Hindu di Jawa dalam hitungan dekade.
Demikian pendapat ane. Ane cukupkan sampe di sini dulu, kalo ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan langsung ama si mbah aja….
Mhuehehehe
Komentar oleh Cabe Rawit Februari 12, 2008 @ 2:10 amwadohh…
mbah jgn dimasukin ati ye sarannya si cabe rawit “Yang Tidak Komen disini, Kafirr!!”
hehehe…lbh serem lg kayanya.
pisss..^_^
Komentar oleh us3 Februari 12, 2008 @ 5:54 amkupikir ada penjelasan yang lebih berarti, ternyata ….hanya apologi saja..
Komentar oleh padma Februari 12, 2008 @ 6:10 amGak nyambung poll
Hmm… “sedikit” komentar. Karena ini dunia internet mas. Kalo berdakwah ya bahasanya dilatih agar “tenang”. Karena saya lihat sudah ada banyak postingan yang “tenang” bahasanya. Enak bacanya… dan gak menimbulkan perdebatan yang “tidak perlu”.
Tenang disini tidak meng kafirkan orang lain. Karena orang itu tidak mau “di judge” oleh orang yang tidak dekat apalagi tidak dikenal olehnya. Apalagi langsung di vonis murtad, kafir, dll
Dan pendakwah harusnya HARUS MAU TAHU tentang ini. Bukannya tidak peduli sama sekali. Berdakwah hanya dengan mementingkan “yang penting hujjah tersampaikan” ? Ah… masa’ dakwah seperti itu ? bagaimana dengan Nabi dulu ?
Apalagi ini INTERNET. SEMUA JENIS MANUSIA ada disini mas. Muslim, Nasrani, Hindu, Budha, Atheis, Komunis, Skeptis, Pendakwah, dll . Sudah saatnya ada cara dakwah yang efektif dan bisa diterima dengan baik. Dan tidak pakai kata “pokoknya…” ( komen postingan pertama ada yg seperti itu.. ).
Masih ingat atau tahu antosalafy ? ( maaf kalo nyebut nama ). Yang saya lihat, untuk beberapa postingan dia berpedoman “yang penting hujjah tersampaikan”. Postingan sensitif biasanya.
Dan itu biasanya direaksi keras sama penghuni blogosphere di id.wordpress. Keras ketemu keras ? Hancur yang ada… hujjah yang ada semakin di tolak, yang menyampaikan pun capek sendiri karena berdebat yang tidak ada gunanya.
Hm… itu aja dech mas. Seperti kata sampeyan, peace bro
. O ya, saya setuju pada beberapa poin dari komentar cabe rawit diatas.
“Dan sampaikan dengan cara yang baik…” ( quote adaptasi )
Komentar oleh Gyl Februari 12, 2008 @ 6:42 amketika aku yang buta ini pertama kali mengenal jagung muda…
aku menceritakan pengalamanku kepada sesama buta :
“hei kawan… kini aku tahu, yang namanya jagung itu bentuknya, kecil sekepalan tanganku, rasanya tidak ada yang istimewa…”
ketika aku yang buta ini kedua kalinya mengenal jagung yang mulai tumbuh besar…
aku ceritakan lagi pengalamanku kepada sesama buta :
“hei kawan… kini aku tahu, yang namanya jagung itu bentuknya lonjong meruncing, bertekstur lurus di sepanjangnya dan bisa tumbuh sebesar dua kepalan tanganku…”
ketika aku yang buta ini ketiga kalinya mengenal jagung yang talah panen…
aku ceritakan lagi pengalamanku kepada sesama buta :
“hei kawan… kini aku tahu, yang namanya jagung itu bentuknya tidak hanya lonjong besar, kalau dikupas helai-helai kulit yang menutupi ada rambut di sepanjang batangnya, dan juga memiliki biji-biji bulat diseluruh permukaannya…”
kali ini teman butaku angkat bicara :
“ah kau bohong teman… kemarin aku dibelikan jagung… ternyata jagung itu seperti pipa dengan biji-biji yang berminyak, tidak runcing kawan…tidak berambut… rasanya juga manis pedas dan sedikit asin dan sedikit pahit…masa kau bilang tidak istimewa?”
teman butaku yang lain menyahut :
“hei, dasar kalian pembohong besar… aku kemarin juga diberi jagung satu kantong kertas… bentuknya kecil2 tidak sampai sebesar ibu jariku… tidak pula seperti biji… bentuknya tidak beraturan seperti merekah ke segala arah… rasanya memang kadang2 asin… lembut di mulut ”
lalu datang seorang asing tidak buta yang kebetulan mendengqar perdebatan kami… setelah bertegur sapa sejenak ia mencoba menengahi perdebatan kami…
“kawan-kawanku… pendapat kalian tidak salah mengenai jagung, bukan pula suatu pengetahuan yang lengkap mengenai jagung…”
kami mulai tertegun…
kataku ” wahai sahabat baruku… bagaimana jika kami ingin mengenal jagung secara utuh? dapatkah kau menceritakannya kepada kami?”
terdiam sejenak…”ini akan memakan waktu yang panjang kawan2 butaku… duduklah yang nyaman dan aku akan menceritakannya kepada kalian..”
lalu mulailah ia bercerita dari saat petani menanam jagung hingga… butir-butir jagung itu dijual oleh pedagang popcorn di depan sebuah toko kelontong di lingkungan kami…
cerita moralnya ga nyambung ya mbah? hehehe….
Komentar oleh Aku... manusia buta (biasa) Februari 12, 2008 @ 7:41 amya udah…..pokoe kulo palay sadayana moeslim merayakan hari besar nya dengan sewajarnya supaya para remaja muslim yg sering ikut ikutan palentinan semoga mau merayakan juga hari hari besar islam ……karena itulah hari besar kamu hai umat islam
Komentar oleh pokona Februari 12, 2008 @ 1:09 pmibarat kita betah di rumah orang tanpa ingat atau lupa rumah nya sendiri ,hehehe……….
Rasulullah itu dakwahnya memang lembut, tapi tegas tidak ada kompromi kalo itu sesuatu yg mengakibatkan kekafiran ya hukumnya kafir kalo sesuatu itu membuat murtad ya murtad hukumnya BUNUH.
Kalo Rasullullah dakwahnya nggak keras Islam gak akan sampe tuh ke tanah abang ato ke palembang.
Ingat sabdanya “Islam itu ditegakkan dengan pedang”
atau “Islam itu agama yang tegas maka orang -orang yang dibelakangnya adalah keras” begitu kurang lebihnya (akan saya carikan dulu jelasnya di riyadhus sholihin atau sokhih bukhori dulu )
Komentar oleh narakushutdown Februari 12, 2008 @ 5:44 pm@atas saya
Masa nabi bersabda seperti itu? Nabi saya yang lemah lembut itu? Muhammad ibn Abdullah SAW? Masa sih??
@Mbahnya
Komentar oleh calonorangtenarsedunia Februari 13, 2008 @ 3:30 amKata Aa Gym, indahnya
nikah lagiperbedaan..Kalo Ngerayain Valentine Murtad tapi Kalo Anarkis Jihad, begitu??
Nyambung nga??
Komentar oleh MenoTimika Februari 13, 2008 @ 4:59 amSama donk kasusnya dengan posting saya yang terbaru itu.
Komentar oleh danalingga Februari 13, 2008 @ 12:44 pm@ calonorangtenarsedunia
ya nabi bersabda seperti itu,belum tau? belajar dong.
@meno timika
Komentar oleh narakushutdown Februari 13, 2008 @ 4:57 pmjihad itu ibadah puncaknya amalan tertinggi dalam islam (kamu muslim bukan?? heh?)
jangan disamakan sama valentine.
baca ini:http://eramuslim.com/berita/nas/8213125523-mui-haram-rayakan-valentine.htm
http://eramuslim.com/berita/nas/8213125523-mui-haram-rayakan-valentine.htm
Komentar oleh narakushutdown Februari 13, 2008 @ 4:58 pm@narakushutdown
Komentar oleh calonorangtenarsedunia Februari 14, 2008 @ 2:55 amOrang2 kayak Anda ini lho yg bikin Islam ga maju2.
Jadi bagi yang gak tau apa esensi dari valentine itu sendiri dan ikut dalam suka cita hari kasih sayang(valentine’s day) juga dianggap murtad?
Komentar oleh blu3shoes Februari 14, 2008 @ 12:04 pmsampai jumpa tahun depan…..
Komentar oleh janganpandangiaku Februari 15, 2008 @ 6:54 amdebat masalah agama lagi
: P
gak selese selese
btw, ada yang mau coklat?
: )
Komentar oleh Kiki Ahmadi Februari 15, 2008 @ 10:13 pmha ha ha… gak nyambung
sampeyan lupa sama judul,
yang sampeuan tulis ya????
menarik juga diskusi soal postingan ini
yagh… semua orang punya cara sendiri2
eh… manusia buta, komen ente ane comot yak
Komentar oleh camagenta Februari 17, 2008 @ 9:31 ambagus je… He3x
@calonorangtenar
Komentar oleh kawana naraku Februari 19, 2008 @ 4:34 pmislam nggak butuh maju, bahkan jika semua orang di dunia ini murtad. ALLAH pun nggak rugi. lebih jelasnya buka qur’an nya yg hanya disimpan di lemari itu cari sendiri ayatnya, kalo sudah ketemu renungkan/pikirkan
Saya termasuk orang yang telat komentar di entri kemarin.
Bagaimana pun, trik dengan judul yang provokatif memang cenderung lebih mudah menarik pembaca + komentator. Termasuk yang fast-reading dan fast-comment.
Tapi saya masih kurang suka perubahan hari Palentin dari ‘hari pahlawan’ jadi hari cinta-cintaan.
Komentar oleh Xaliber von Reginhild Februari 22, 2008 @ 1:16 pmHmm, untunglah saya gak suka yang namanya valentinan,
Komentar oleh Andri A Februari 25, 2008 @ 8:36 amwahhh mbahnya belum posting yang baru lagi ya?? ehh,, tapi aku blum komengtar juga dink..
Komentar oleh raddtuww tebbu Maret 12, 2008 @ 12:31 amNyambung mbah, naik metro mini dulu….
hehe…(g lucu sih)..
Pokoknya keren deh….
Ok mbah!!
Trus berdakwah dan berjuang…
Komentar oleh tWiCe k Maret 19, 2008 @ 11:08 am